Senin, 28 Januari 2013

Aspek-Aspek Pendekatan Dalam Sistem Diklatdas Pecinta Alam

Seperti yang kita ketahui, untuk membangun Pecinta Alam yang mengerti dan memahami kode etik Pecinta Alam tidaklah mudah, karena kita akan dihadapkan pada penurunan tataran nilai kualitatif Kode etik sebagai sebuah visi normatif, kedalam bentuk model sistemik yang serba terkuantifikasi.Untuk memastikan hal itu terjadi dengan benar, atau setidaknya terdapat sebuah alat dan tolok ukur keberhasilan, maka model sistemik merupakan alternatif pilihan yang mampu memberikan peluang bagi pemikiran yang komprehensif, dan dituangkan kedalam bentuk kurikulum pendidikan dasar Pecinta Alam.Kurikulum ini disusun atas dasar pendekatan-pendekatan awal sebagai acuan pokoknya, sehingga deviasi, distorsi, stagnasi, serta kendala lain yang mungkin kelak akan dihadapi, akan tetap dapat dipantau untuk dicarikan jalan keluarnya.
Pendekatan dimaksud adalah :- Pendekatan pada aspek hakikat tujuan pendidikan itu sendiri- Pendekatan pada aspek komponen kurikulum dengan interprestasi sbb :

PENDEKATAN HAKIKAT TUJUAN PENDIDIKAN

Sesuai dengan yang dijabarkan oleh UNESCO-PBB mengenai sokoguru tujuan sebuah sistem pendidikan, harus mangacu setidaknya pada aspek-aspek :

1. Learn to do
Siswa, anak didik atau murid harus diajarkan tentang bagaimana cara melakukan sesuatu atas dasar keilmuan yang dipelajari dan dikuasinya.Diklatdas Pecinta Alam harus mengajarkan bagaimana cara-cara yang benar saat melakukan suatu tindakan tertentu sesuai dengan disiplin ilmu kepecinta-alaman yang diajarkan.

Contoh : diajarkan penggunaan peta dan kompas, serta bagaimana cara menggunakannya dengan baik dilapangan

2. Learn to think
Dengan penguasaan keilmuan yang didapatkannya, ditambah dengan modal kemampuan dan kapasitas intelektual yang dipunyainya, maka dikembangkan konsep model cara berfikir, yang sesuai dengan kaidah nilai Pecinta Alam.Model berpikir yang logis dan sistematis harus tercipta dengan urutan kronologis yang benar serta proporsional.Bentuknya berupa pengajaran dan pelatihan melalui berbagai simulasi, bagaimana sebuah keputusan diambil pada saat-saat kritis, layaknya sebuah manajemen krisis atau konflik.

Contoh : vertikal rescue, atau menyelamatkan korban di tebing, dimana faktor serta variabel eksternal dan internal sangat berperan, dimulai dari tingkat kegawatan dan kedaruratan (krisis) yang meningkat, ditambah dengan variabel cuaca, keadaan medan, faktor mental korban dan team rescue, sarana pendukung, dll., dimana semuanya membutuhkan pemikiran yang cepat, tepat namun tetap akurat.

3. Learn to be
Seseorang yang telah mengikuti diklatdas Pecinta Alam, kemudian memakai badge Pecinta Alam, bahkan mempunyai nomor pokok anggota, harus mampu memanifestasikan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kelompoknya.Eksistensi diri haruslah merupakan cerminan dari identitasnya dan juga dari sikap mentalnya (attitude), yang secara nyata menegaskan adanya konsep integritas diri, sehingga tidak ada kegamangan dan kerikuhan saat dia mengekpresikan dirinya secara total, didalam lingkungan masyarakatnya.

Contoh : Seorang pecinta alam yang bangga dengan identitas diri dan kelompoknya seperti badge, syal, dll, namun bukan hanya tampilan luarnya saja, namun juga sikap mental dan kepribadian didalamnya, seperti rendah hati, ramah dan bersahabat, sederhana, bertingkah secara alamiah tanpa dibuat-buat, senantiasa peduli pada kesusahan orang lain, dsb.

4. Learn to live together.
Manusia adalah mahluk sosial dan bukan mahluk soliter yang penyendiri, sehingga dia harus mampu hidup secara total dalam lingkungan masyarakat pada umumnya, serta dalam berbagai lingkungan kelompok atau komunitas pilihannya.
Kenyataan ini membuat manusia harus senantiasa merencanakan dan menyiapkan dirinya untuk terjun dalam komunitas tadi, dan memahami bahwa masyarakatlah yang sesungguhnya merupakan front terahir yang sebenarnya.Hukum-hukum yang berlaku dalam sebuah konteks inter-relasi semacam itu, tidak akan terlepas dari hukum-hukum objektif Illahiah, dan oleh karenanya pengertian berkumpul serta motif yang menyertainya sangatlah penting.

Bahwa silaturahmi (berkumpul karena saling menyayangi) bukanlah didapat dengan cara begitu saja, seperti konotasi yang sering digunakan saat ini, dimana asal berkumpul lalu dengan mudah diartikan sebagai silaturahmi.Silaturahmi adalah proses puncak dari pertemuan dan kumpulan-kumpulan sebelumnya, seperti silatul fikr (berkumpul karena berfikir sama ), silatul ilmi (berkumpul karena berilmu sama), silatul hoby (berhoby sama) , dst., dan pada akhirnya dipuncaki oleh karena saling sayang menyayangi.

Contoh : Saat orang hilang digunung akibat kecelakaan pesawat terbang, maka berbondong Pecinta Alam menjadi team SAR dilapangan, dengan motif karena kasih sayang, bahwa dikerapatan belantara tadi, ada orang-orang yang tengah terancam hidupnya.
Operasi SAR bukan untuk mengibarkan bendera organisasi, seraya mengklaim aku yang paling hebat, namun semata karena kasih sayang (rahman dan rahim) saja mereka berkumpul, dan sudah jauh meninggalkan aspek-aspek kesamaan ilmu, fikiran, hoby semata.

Hal diatas pada akhirnya akan memuncaki tujuan pendidikan itu sendiri yaitu bukan sekedar untuk menciptakan keunggulan individualistik semata, namun terlebih jauh lagi adalah keunggulan partisi-patorik, karena tidak jarang sesuatu yang hanya bersifat individualistik, akhirnya akan membuat manusia menjadi serigala bagi sesamanya atau homo homini lupus.

Ditulis :: Yayat Lessie (Intersection)

2 komentar:

  1. Yayat Lessie (Intersection) ., bsa gak liat buku aslinya.,.

    BalasHapus